Obrog Tradisi Khas Ramadhan Eksis di Cirebon
CIREBON - Ramadhan bukan saja bulan suci yang berlimpah pahala. Namun, pada bulan tersebut, banyak tradisi yang menarik yang perlu diungkap. Salah satunya, obrog atau tradisi membangunkan masyarakat untuk melaksanakan sahur dengan cara membunyikan alat music secara beramai-ramai.
Pemerhati kebudayaan, Muhazir mengatakan, obrog merupakan salah satu kearigan budaya lokal yang patut dilestarikan. Menurutnya, obrog bukan sekedar tradisi membangunkan orang untuk sahur. Namun di dalamnya terdapat makna sosiologis yang dapat mempersatukan kerukunan antar masyarakat. “Menariknya, di bulan ramadhan tradisi seperti ini hanya ada di Indonesia. Di Negara Islam lainnya hampir tidak ada. Jika ada, tak seramai di sini,” ungkapnya saat ditemui di kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Senin (7/7).
Di balik alat musik tradisional sperti kendang dan kenong, dia melihat, obrog menyimpan rasa kepedulian antar sesama warga. Diungkapkannya, tradisi kekerabatan yang kuat nampak pada rasa semangat penabuh obrog membangunkan tetangga-tetangganya di tengah malam hari.
“Bayangkan di saat tengah malam hari, masyarakat kita punya semangat membangunkan tetangganya. Suasana seperti ini jarang ada di Negara mana pun,” paparnya.
Muhazir menjelaskan, di setiap daerah Indonesia mempunyai cirri khas tersendiri menamai grup musik saat sahur itu. Di Cirebon sendiri, nama obrog berasal dari suara alat music dog-dog (semacam bedug, red). Karena zaman dahulu hanya ada alat musik taradisional, maka diambillah nama itu.
“Tidak seperti sekarang, dulu tidak ada listrik, televisi, atau radio. Jadi, orang untuk bangun sahur nggak kayak sekarang tinggal pakai alarm atau menyalakan televisi,” saja.
Melihat tradisi obrog memiliki nilai sosiologis, dia berharap agar obrog perlu diabadikan menjadi salah satu tradisi khazanah Nusantara. Kearifan budaya lokal itu, baginya adalah identitas bangsa Indonesia yang patut dilestarikan dan dipahami nilai-nilainya.
“Jika obrog semakin langka, maka kita bisa melihat bahwa kekerabatan sosial anta masyarakat sudah mulai pudar,” ungkap Muhazir. (CNC)

0 komentar:
Posting Komentar