Generasi Muda Cirebon Pertahankan Tradisi Ngaji Pasaran di Bulan Ramadhan
CIREBON - Di Indonesia, ada tradisi menarik di pondok pesantren. Ngaji Pasaran atau mengkaji kitab salafus shalih (kitab karangan ulama terdahulu, red) biasa dilakukan oleh santri dan pengasuh pondok pesantren secara bersama-sama di bulan Ramadhan. Mempelajari khazanah ilmu pengetahuan Islam di pesantren, saat nagaji pasaran, tidak bisa dipisahkan dengan referensi kitab klasik berbahasa Arab atau yang lebih dikenal dengan Kitab Kuning.
Menurut sejarahwan NU Kota Cirebon, KH Suteja Ibnu Pakar mengatakan tradisi ngaji pasaran di pondok pesantren sudah sejak lama ada di Nusantara. Dia menjelaskan, perkembangan tradisi mengaji kitab kuning menjelang buka puasa mulai pesat ditardisikan di pesantren-pesantren sejak abad 18.
Kitab klasik yang ditulis secara langsung oleh ulama terdahulu itu menjadi rujukan atau literature wajib di lembaga pendidikan tertua di Indonesia tersebut. Diungkapkannya, ngaji pasaran menggunakan kitab kuning sebagai literatur khas sebagai sumber referensi wajib untuk memahami ilmu agama dan umum yang ditulis langsung oleh ulama-ulama.
“Jadi, ngaji pasaran adalah pengajian umum yang dipandu oleh kyai membahas masalah hukum, sejarah peradaban Islam, Fiqh, Tauhid, Filsafat, dan lain-lain. Kitab yang dibahas langsung dari ulama tersohor di masa lampau,” paparnya saat ditemui, Senin, (7/7).
Dia menyebutkan, kitab kuning yang biasa dibahas pada ngaji pasaran di dunia pesantren yaitu, seperti Bidayatul Bidayah, Attibyan, Tafsir Qur’an, Ihya Ulummudin, Tafsir Al-Hikam, Waroqot, Risalatul Ahli Sunnah Wal Jama’ah, Safinah, Syara Tijan Darori, Qotrul Ghoys, dan masih banyak lagi.
Ulama NU Kota Cirebon itu menuturkan, kelebihan pondok pesantren dengan lembaga pendidikan Islam lainnya terletak pada tradisi khazanah menggali ilmu pengetahuan dari kitab aslinya. Dia menjelaskan, pondok pesantren sangat menjaga tradisi dalam proses belajar mengajar, Kiyai mengajarkan secara intensif ilmu agama Islam kepada santrinya yang menetap di pondok hingga bertahun-tahun sampai para santri memahami dengan benar.
Dia menambhakan, metode pembelajaran di pesantren ada dua macam yaitu sorogan, yaitu santri membaca atau mengkaji kitab diperhatikan langsung oleh Kyai. Kedua, ditambahkannya yaitu Bandungan atau memperhatikan penyampaian kyiai yang sedang menerangkan kepada santri.
“Kitab kuning berisi ajaran mengenai hubungan dengan masyarakat, misalnya bagaimana berakhlak yang luhur, Kitab kuning juga mencakup ilmu-ilmu, antara lain tafsir, hadits, fiqih, tauhid, tasawuf, nahwu (tata bahasa), shorof (perubahan kata), dan balaghah (sastra Arab, -red), kitab kuning karangan ulama besar seperti Al-Ghazali, Imam Nawawi, Imam Syafii, Ibnu Rusyd, Syaikh Nawasi Al-Bantani, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan masih banyak lagi tokoh Ilmuan Islam lainnya,” katanya. (CNC)

0 komentar:
Posting Komentar