New Design

Recent Post

Selasa, 01 Juli 2014
Jumlah Penduduk Miskin Di Jabar Berkurang 48.107 Orang

Jumlah Penduduk Miskin Di Jabar Berkurang 48.107 Orang


BANDUNG - Badan Pusat Statistik Jawa Barat mencatat pada Maret 2014, jumlah penduduk miskin mencapai 4.327.065 orang atau 9,44% dari total penduduk, berkurang 0,18% atau 48.107 orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2013 yang sebesar 4.375.172 orang.

Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Jabar Dyah Anugrah Kuswardani mengatakan jumlah penduduk miskin di perkotaan mencapai 2.578.358 orang atau 8,47% dari total penduduk. Sedangkan di pedesaan sebanyak 1.748.707 orang atau 11,35% dari total penduduk.

“Dibandingkan dengan September 2013 terjadi penurunan penduduk miskin di perkotaan dari 8,69% menjadi 8,47%. Sebaliknya, di pedesaan pun terjadi penurunan dari 11,42% menjadi 11,35%,” katanya, Selasa (1/7/2014).

Pada Maret 2014, katanya, garis kemiskinan di Jabar ditetapkan Rp285.013 per kapita per bulan, atau naik 2,96% dari September 2013 sebesar Rp276.825 per kapita per bulan.

Dia menjelaskan untuk daerah perkotaan garis kemiskinan pada Maret 2014 sebesar Rp288.742 per kapita per bulan, atau naik 2,69% dari September 2014 Rp281.189 per kapita per bulan.

Sementara garis kemiskinan di pedesaan pada Maret 2014 mengalami peningkatkan yang cukup tinggi mencapai 3,5% sebesar Rp277.645 per kapita per bulan, dibandingkan September 2013 sebesar Rp268.251 per kapita per bulan.

Adapun peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan komoditi bukan makanan.

“Sumbangan garis kemiskinan makanan (GKM) terhadap garis kemiskinan (GK) sebesar 70,11% untuk daerah perkotaan, sementara pedesaan mencapai 72,03%,” ujar Dyah.(Bisnis)
Gawat, Sosialisasi BPJS Kesehatan Di Jabar Masih Belum Optimal

Gawat, Sosialisasi BPJS Kesehatan Di Jabar Masih Belum Optimal


BANDUNG - Komisi E DPRD Jawa Barat masih menemukan banyak masyarakat dan kepala daerah yang belum memahami program BPJS Kesehatan.

Ketua Komisi E DPRD Jabar Didin Supriadin mengatakan yang membuat pihaknya prihatin ketidaktahuan juga dialami perangkat pemerintahan dari struktur bawah. 

"Jangankan masyarakat perangkat unsur pemerintahan pun lingkup kepala desa banyak ya tidak tahu, begitu juga camat,” katanya di Bandung, Selasa (1/7/2014).

Menurutnya kebijakan nasional yang sudah berjalan sejak awal 2014 ini harusnya bisa sampai dan dipahami oleh seluruh struktur perangkat pemerintah hingga tingkat bawah. Didin sendiri mengatakan potret ini adalah hasil dari tinjauan pihaknya ke sejumlah daerah dan rumah sakit di Jabar.

Dia mengaku meski pemahaman masih kurang, antusiasme masyarakat untuk mengikuti program ini sudah mulai tumbuh. Pihaknya menemukan bahwa tren keanggotaan BPJS Kesehatan naik terus di sejumlah wilayah. 

"Tetapi ketika kita evaluasi dengan kabupaten kota dan rsud, ternyata  sosialisasinya masih kurang. Banyak masyarakat yang belum paham apa itu BJS Kesehatan, masyarakat tahunya Jamkesmas dan Jamkesda," katanya.

Didin menilai sosialisasi harus lebih dioptimalkan, baik oleh BPJS Kesehatan di kabupaten kota, maupun unsur dinas kesehatan dan RSUD. Apalagi pada tahun 2017 nanti setiap kabupaten kota akan dibebani untuk pembiayaan BPJS Kesehatan.

"Sebetulnya dengan sistem Jamkesda Kamkesmas saja pemerintah kabupaten kota sudah kerepotan, APBD kota/kabupaten kan beda beda ada yang besar dan ada yang rendah, nah yang rendah ini susah," katanya. (Bisnis)
Jumlah Petani Di Jabar Terus Berkurang

Jumlah Petani Di Jabar Terus Berkurang


BANDUNG - Badan Pusat Statistik Jawa Barat mencatat hasil sensus pertanian 2013, salah satunya terjadi penurunan rumah tangga usaha pertanian yang hanya tinggal 3.058.612 rumah tangga.

Kepala Bidang Statistik Produksi BPS Jabar Ruslan mengatakan angka tersebut mengalami penurunan sebesar  29,61% dibandingkan dengan hasil sensus pertanian 2003 yang mencapai 4.345.148 rumah tangga.

“Hal ini menunjukkan bahwa beberapa rumah tangga ada yang beralih profesi dari petani menjadi buruh,” katanya, Selasa (1/7/2014).

Ruslan memaparkan rata-rata pendapatan rumah usaha tangga petani pada 2013 mencapai Rp24,76 juta rupiah per tahun atau Rp2,06 juta per bulan.

Kontribusi pendapatan dari usaha di sektor pertanian sebesar 41,7% terhadap pendapatan rumah tangga pertanian.

“Sektor ini memang mulai ditinggalkan seiring alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan maupun industri.” (Bisnis)
Breaking News
Loading...
Quick Message
Press Esc to close
Copyright © 2013 TRIO MACAN All Right Reserved